Identifikasi Dan Tingkat Serangan Hama Pada Bibit Trembesi (Samanea Saman) Dan Pulai (Alstonia Scholaris) Di Persemaian Pt Green Mandiri Di Kota Pekanbaru
Lestari, Yuni Sri
Identifikasi dan tingkat serangan hama merupakan salah satu indikator yang
harus diperhatikan dalam penanaman dengan menggunakan bibit tanaman hutan yang
bermutu tinggi akan menghasilkan bibit yang berkualitas ditandai dengan tumbuh
normal, bebas dari gangguan hama penyakit, sangat menentukan keberhasilan
penanaman dilapangan (Adinugroho, 2008). Persemaian merupakan tahap awal
proses budidaya tanaman yang sangat menentukan kualitas bibit yang dihasilkan
(Santoso et., al 2021).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengidentifikasi jenis serangan
hama serta tingkat kerusakan, frekuensi serangan dan intensitas serangan hama. Jenis
trembesi dan pulai di pilih dalam penelitian ini karena merupakan tumbuhan peneduh
yang pohonnya besar, tinggi dengan tajuk yang sangat lebar. Trembesi atau pohon ki
hujan merupakan tanaman pelindung banyak manfaat (Ramadani (2015) dalam
(Bantali et., al 2020). Sedangkan pulai merupakan salah satu jenis pohon yang
tersebar di seluruh indonesia. Bagian dari pohon ini dapat digunakan mulai getah
hingga kayunya, kulit batang, daun dan bunga dapat dimanfaatkan sebagai bahan
obat-obatan. Kayunya dapat dimanfaatkan untuk bahan baku kerajinan, pensil, papan
tulis, lemari dan lain-lain (Pratiwi, 2000).
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa hama yang menyerang bibit trembesi
adalah Ulat Kantong (Metisa plana), Belalang kayu (Valanga nigricornis) dan
Belalang Daun (Scuderia furcata) dan hama pada bibit pulai adalah Belalang Kayu
(Valanga nigricornis) dan Belalang Daun (Scuderia furcata) Frekuensi serangan pada
bibit trembesi mencapai 99,30% angka tersebut mengindikasikan bahwa hampir
seluruh tanaman mengalami kerusakan. Sementara intensitas serangan hama
mencapai 37,58% menunjukan bahwa lebih dari sepertiga dari populasi tanaman
trembesi terinfeksi dan mengalami kerusakan akibat serangan belalang. Sedangkan
frekuensi serangan tanaman pulai sebesar 3,21% angka tersebut tergolong rendah,
dan intensitas serangan pulai sebesar 32,31% tergolong sedang, meskipun tidak
seluruh tanaman mengalami kerusakan berat, tingkat intensitas serangan yang cukup
tinggi menunjukkan bahwa ada potensi gangguan yang besar pada tanaman tersebut.
Serangan belalang dan ulat pada daun muda akan menghambat proses fotosintesis
dan memperlambat pertumbuhan tanaman, maka dari itu perlu dilakukan pemantauan
berkala untuk mengambil langkah pencegahan yang tepat, penggunaan pestisida dan
insektisida dengan dosis yang tepat sangat disarankan agar bibit di persemaia
terhindar dari serangan hama.
harus diperhatikan dalam penanaman dengan menggunakan bibit tanaman hutan yang
bermutu tinggi akan menghasilkan bibit yang berkualitas ditandai dengan tumbuh
normal, bebas dari gangguan hama penyakit, sangat menentukan keberhasilan
penanaman dilapangan (Adinugroho, 2008). Persemaian merupakan tahap awal
proses budidaya tanaman yang sangat menentukan kualitas bibit yang dihasilkan
(Santoso et., al 2021).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengidentifikasi jenis serangan
hama serta tingkat kerusakan, frekuensi serangan dan intensitas serangan hama. Jenis
trembesi dan pulai di pilih dalam penelitian ini karena merupakan tumbuhan peneduh
yang pohonnya besar, tinggi dengan tajuk yang sangat lebar. Trembesi atau pohon ki
hujan merupakan tanaman pelindung banyak manfaat (Ramadani (2015) dalam
(Bantali et., al 2020). Sedangkan pulai merupakan salah satu jenis pohon yang
tersebar di seluruh indonesia. Bagian dari pohon ini dapat digunakan mulai getah
hingga kayunya, kulit batang, daun dan bunga dapat dimanfaatkan sebagai bahan
obat-obatan. Kayunya dapat dimanfaatkan untuk bahan baku kerajinan, pensil, papan
tulis, lemari dan lain-lain (Pratiwi, 2000).
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa hama yang menyerang bibit trembesi
adalah Ulat Kantong (Metisa plana), Belalang kayu (Valanga nigricornis) dan
Belalang Daun (Scuderia furcata) dan hama pada bibit pulai adalah Belalang Kayu
(Valanga nigricornis) dan Belalang Daun (Scuderia furcata) Frekuensi serangan pada
bibit trembesi mencapai 99,30% angka tersebut mengindikasikan bahwa hampir
seluruh tanaman mengalami kerusakan. Sementara intensitas serangan hama
mencapai 37,58% menunjukan bahwa lebih dari sepertiga dari populasi tanaman
trembesi terinfeksi dan mengalami kerusakan akibat serangan belalang. Sedangkan
frekuensi serangan tanaman pulai sebesar 3,21% angka tersebut tergolong rendah,
dan intensitas serangan pulai sebesar 32,31% tergolong sedang, meskipun tidak
seluruh tanaman mengalami kerusakan berat, tingkat intensitas serangan yang cukup
tinggi menunjukkan bahwa ada potensi gangguan yang besar pada tanaman tersebut.
Serangan belalang dan ulat pada daun muda akan menghambat proses fotosintesis
dan memperlambat pertumbuhan tanaman, maka dari itu perlu dilakukan pemantauan
berkala untuk mengambil langkah pencegahan yang tepat, penggunaan pestisida dan
insektisida dengan dosis yang tepat sangat disarankan agar bibit di persemaia
terhindar dari serangan hama.
Informasi Repositori
- Jenis
- Thesis
Detail Information
- Tahun
- 2025
- Bahasa
- id
- Last Updated
- 2025-09-22T03:40:19Z
Subjects / Keywords
Akses Dokumen
Hak Cipta & Lisensi
Konten ini bersumber dari Repositori Institusi Kemendikdasmen.
Hak cipta dimiliki oleh institusi pencipta karya. Dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International (CC BY-NC 4.0).
Metadata di-harvest melalui protokol OAI-PMH sesuai SK Sekjen Kemendikbudristek No. 18/M/2022.
Karya Umum
Filsafat
Agama
Ilmu-ilmu Sosial
Bahasa
Ilmu-ilmu Murni
Ilmu-ilmu Terapan
Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
Kesusastraan
Geografi dan Sejarah