Revitalisasi kesenian sintren di kota dan kabupaten Pekalongan
Triatnawati, Atik; HerawatI, Isni; Sujarno, Sujarno; Sumarno, Sumarno; Wicaksono, Harto; Rafsanjani, M. Arif; Putri, Yulina Dwita
Kesenian sintren terdapat di Kota Pekalongan, Jawa Tengah. Penelitian ini bertujuan antara lain mengetahui sintren dulu dan kini; makna sintren serta bagaimana pelestarian dan pengembangannya khususnya yang dilakukan pemerintah. Penelitian dengan studi etnografi ini dilakukan selama bulan Oktober-November 2012 dengan wawancara terhadap pejabat pemda, Kepala Dinas Pariwisata, Kasubdin dan Kasie PAriwisata dan seni kreatif kota Pekalongan, Pamong Desa, kelompok sintren, pemain sintren, mantan pemain sintren, penonton dan warga masyarakat Kalurahan Panjang Baru, Kota Pekalongan dan Desa Pedawang, Kabupaten Pekalongan. Observasi dilakukan saat persiapan dan pentas sintren di kedua wilayah penelitian.
Kesenian sintren dahulu mengalami kejayaan di saat Tempat Pelelangan Ikan Pekalongan ramai dengan aktivitas melaut. Seiring dengan kemunduran TPI ditambah era reformasi dan otonomi daerah serta arus globalisasi yang meluas di masyarakat lewat akses televisi, internet dan lainnya, kesenian sintren terus ditinggalkan penggemarnya. Sintren asli yang mengandung magic dan sesaji semakin kehilangan makna sebab unsur religi dan hilang diganti unsur lain yang lebih dominan.
Tumbuhnya industri pariwisata telah melahirkan seni wisata yaitu munculnya sintren garapan. Sintren garapan mengandung ciri seni untuk wisata yaitu dari aslinya; singkat/padat pertunjukannya; penuh variasi; nilai-nilai kesakralan, simbolik dan kemagisannya dikesampingkan serta murah harganya. Diperlukan uluran tangan dari banyak pihak, baik pemerintah, masyarakat penonton maupun pemain sintren agar eksistensi mereka tetap ada meskipun harus mengikuti selera pemerintah atau penonton.
Kesenian sintren dahulu mengalami kejayaan di saat Tempat Pelelangan Ikan Pekalongan ramai dengan aktivitas melaut. Seiring dengan kemunduran TPI ditambah era reformasi dan otonomi daerah serta arus globalisasi yang meluas di masyarakat lewat akses televisi, internet dan lainnya, kesenian sintren terus ditinggalkan penggemarnya. Sintren asli yang mengandung magic dan sesaji semakin kehilangan makna sebab unsur religi dan hilang diganti unsur lain yang lebih dominan.
Tumbuhnya industri pariwisata telah melahirkan seni wisata yaitu munculnya sintren garapan. Sintren garapan mengandung ciri seni untuk wisata yaitu dari aslinya; singkat/padat pertunjukannya; penuh variasi; nilai-nilai kesakralan, simbolik dan kemagisannya dikesampingkan serta murah harganya. Diperlukan uluran tangan dari banyak pihak, baik pemerintah, masyarakat penonton maupun pemain sintren agar eksistensi mereka tetap ada meskipun harus mengikuti selera pemerintah atau penonton.
Detail Information
- Publisher
- Balai Pelestarian Nilai Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta
- Tahun
- 2012
- Bahasa
- id
- Last Updated
- 2024-02-28T03:32:51Z
Subjects / Keywords
Akses Dokumen
Hak Cipta & Lisensi
Konten ini bersumber dari Repositori Institusi Kemendikdasmen.
Hak cipta dimiliki oleh institusi pencipta karya. Dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International (CC BY-NC 4.0).
Metadata di-harvest melalui protokol OAI-PMH sesuai SK Sekjen Kemendikbudristek No. 18/M/2022.
Karya Umum
Filsafat
Agama
Ilmu-ilmu Sosial
Bahasa
Ilmu-ilmu Murni
Ilmu-ilmu Terapan
Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
Kesusastraan
Geografi dan Sejarah