Tata krama suku bangsa madura
Wibowo, H.J.; Adrianto, Ambar; Sumarno, Sumarno; Munawaroh, Siti; Nurwanti, Yustina Hastrini
Keluarga merupakan masyarakat mini untuk mensosialisasikan tata krama. Sebuah keluarga di mana ayah atau ibu mereka pengendali sosial sudah sepantasnya dihormati oleh anak-anaknya. Tanda hormat itu diwujudkan dalam tata krama, khususnya tata krama berbicara, duduk, makan, berjalan dan sebagainya.
Bahasa yang pada umumnya merupakan cara berkomunikasi, berbicara bagi masyarakat Sumenep yang merupakan cerminan tata krama suku bangsa Madura memiliki tingkatan tutur yang merupakan wujud hormat kepada yang diajak bicara. Dengan melalui bahasa dan cam berbicara, bisa dilihat tingkatan tata krama suku bangsa Madura. Dengan mempertahankan tingkatan bahasa tersebut, tata krama khususnya tata krama suku bangsa Madura dapat dilestarikan. Bahasa dan cam berbicara bagi suku bangsa Madura yang diikuti oleh gerak-gerik atau sikap yang menandakan bagaimana seharusnya orang menghormati kepada orang lain.
Tata krama lain yang jarang diperhatikan adalah cara duduk dan berdiri, bersalaman, bertegur sapa dan sebagaimana merupakan sikap bagaimana orang menyadari diri sendiri dalam berhadapan dengan orang lain. Kesadaran semacam itu merupakan pola perilaku yang sudah diturunkan dari nenek moyangnya sehingga perlu dilestarikan. Namun kenyataan perubahan kebudayaan menunjukkan bahwa tata krama yang berusaha dipertahankan itu di sana-sini telah mengalami pergeseran karena adanya interprestasi baru. Dalam beberapa hal apa yang dianggap baik dulu telah dianggap kurang praktis pada masa sekarang. Hal itu disebabkan adanya pengaruh pergaulan orang-orang Madura dengan masyarakat lain. Apalagi kalau diingat bahwa pulau Madura sekarang bukan lagi pulau yang tertutup. Banyak orang-orang Madura melakukan migrasi karena alasan berdagang, sekolah dan sebagainya lalu-lalang dari Madura ke Surabaya (Jawa) sehingga mobilitas itu akan banyak mempengaruhi bentuk tata krama terutama yang dianggap baku.
lndividu-individu yang dianggap sebagai agen pembahan (agent of change) adalah kaum muda dan orang-orang yang mudah menerima unsur-unsur baru sehingga mereka itu dianggap sebagai penentu bentuk tata krama di masa mendatang. Namun demikian perlu diingat bahwa suku bangsa Madura merupaknn salah satu suku bangsa di lndonesia yang mencintai nilai-nilai kebudayaan sehingga mereka tidak suka begitu Saja membiarkan kebudayaannya tererosi (terkikis) pengaruh dari luar, mengingat kebudayaan itu identitas suku bangsa.
Bahasa yang pada umumnya merupakan cara berkomunikasi, berbicara bagi masyarakat Sumenep yang merupakan cerminan tata krama suku bangsa Madura memiliki tingkatan tutur yang merupakan wujud hormat kepada yang diajak bicara. Dengan melalui bahasa dan cam berbicara, bisa dilihat tingkatan tata krama suku bangsa Madura. Dengan mempertahankan tingkatan bahasa tersebut, tata krama khususnya tata krama suku bangsa Madura dapat dilestarikan. Bahasa dan cam berbicara bagi suku bangsa Madura yang diikuti oleh gerak-gerik atau sikap yang menandakan bagaimana seharusnya orang menghormati kepada orang lain.
Tata krama lain yang jarang diperhatikan adalah cara duduk dan berdiri, bersalaman, bertegur sapa dan sebagaimana merupakan sikap bagaimana orang menyadari diri sendiri dalam berhadapan dengan orang lain. Kesadaran semacam itu merupakan pola perilaku yang sudah diturunkan dari nenek moyangnya sehingga perlu dilestarikan. Namun kenyataan perubahan kebudayaan menunjukkan bahwa tata krama yang berusaha dipertahankan itu di sana-sini telah mengalami pergeseran karena adanya interprestasi baru. Dalam beberapa hal apa yang dianggap baik dulu telah dianggap kurang praktis pada masa sekarang. Hal itu disebabkan adanya pengaruh pergaulan orang-orang Madura dengan masyarakat lain. Apalagi kalau diingat bahwa pulau Madura sekarang bukan lagi pulau yang tertutup. Banyak orang-orang Madura melakukan migrasi karena alasan berdagang, sekolah dan sebagainya lalu-lalang dari Madura ke Surabaya (Jawa) sehingga mobilitas itu akan banyak mempengaruhi bentuk tata krama terutama yang dianggap baku.
lndividu-individu yang dianggap sebagai agen pembahan (agent of change) adalah kaum muda dan orang-orang yang mudah menerima unsur-unsur baru sehingga mereka itu dianggap sebagai penentu bentuk tata krama di masa mendatang. Namun demikian perlu diingat bahwa suku bangsa Madura merupaknn salah satu suku bangsa di lndonesia yang mencintai nilai-nilai kebudayaan sehingga mereka tidak suka begitu Saja membiarkan kebudayaannya tererosi (terkikis) pengaruh dari luar, mengingat kebudayaan itu identitas suku bangsa.
Detail Information
- Publisher
- Proyek Pemanfaatan Kebudayaan Daerah DIY
- Tahun
- 2002
- Bahasa
- id
- Last Updated
- 2024-03-18T04:05:48Z
Subjects / Keywords
Akses Dokumen
Hak Cipta & Lisensi
Konten ini bersumber dari Repositori Institusi Kemendikdasmen.
Hak cipta dimiliki oleh institusi pencipta karya. Dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International (CC BY-NC 4.0).
Metadata di-harvest melalui protokol OAI-PMH sesuai SK Sekjen Kemendikbudristek No. 18/M/2022.
Karya Umum
Filsafat
Agama
Ilmu-ilmu Sosial
Bahasa
Ilmu-ilmu Murni
Ilmu-ilmu Terapan
Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
Kesusastraan
Geografi dan Sejarah