Mengenal sekelumit kebudayaan orang Madura di Sumenep
Moelyono, Moelyono; Murniatmo, Gatut; Wibowo, Herman Josep; D., Salamun
Sumenep - Madura yang telah dikemukakan pada bab-bab terdahulu ternyata masih dapat dilihat adanya unsur-unsur budaya orang Madura di Sumenep, Didukung oleh keadaan atau lingkungannya, unsur-unsur budaya yang tertinggal itu merupakan potensi untuk menjadikan dan mengembangkan Sumenep dan daerah sekelilingnya sebagai daerah Wisata di Indonesia. Alamnya yang menarik, yaitu terutama di pulau-pulau Kangean, Sepudi dan lain sebagainya yang diisi oleh budaya seni dan kehidupan penduduknya merupakan daya tarik dari para wisatawan. Juga daerah Kalianget, khususnya dengan Pinggir papas yang terkenal sebagai daerah gusur di Madura bila dikelola bisa dijadikan sebagai obyek Wisata. Di desa ini pula kita bisa menyaksikan upacara nadar yang dilakukan oleh para petani garam.
Di daerah Sumenep sendiri, yaitu daerah perkotaannya banyak kita jumpai bangunan-bangunan kuno, yang konon kabarnya telah ada pada jaman pemerintahan raja-raja Sumenep. Bangunan yang merupakan kebanggaan orang Sumenep adalah bangunan Kraton Sumenep, Mesjid Jamik dan makam raja-raja Sumenep dan keluarganya yaitu "Hasta Tinggi". Dalam Sejarah orang Sumenep disebutkan bahwa Kraton Sumenep itu dibangun pada jaman pemerintahan Panembahan Sumolo. Sedang pelaksanaannya oleh Panembahan Sumolo ditunjuk seorang arsitek Cina yang bernama Lauw Pia Ngo (1764). Juga mesjid agung "jamik" Pembuatannya pada jaman Panembahan Sumolo dengan arsitek yang sama (1781).
Di daerah Sumenep sendiri, yaitu daerah perkotaannya banyak kita jumpai bangunan-bangunan kuno, yang konon kabarnya telah ada pada jaman pemerintahan raja-raja Sumenep. Bangunan yang merupakan kebanggaan orang Sumenep adalah bangunan Kraton Sumenep, Mesjid Jamik dan makam raja-raja Sumenep dan keluarganya yaitu "Hasta Tinggi". Dalam Sejarah orang Sumenep disebutkan bahwa Kraton Sumenep itu dibangun pada jaman pemerintahan Panembahan Sumolo. Sedang pelaksanaannya oleh Panembahan Sumolo ditunjuk seorang arsitek Cina yang bernama Lauw Pia Ngo (1764). Juga mesjid agung "jamik" Pembuatannya pada jaman Panembahan Sumolo dengan arsitek yang sama (1781).
Detail Information
- Publisher
- Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta
- Tahun
- 1984
- Bahasa
- id
- Last Updated
- 2024-02-22T02:15:14Z
Subjects / Keywords
Akses Dokumen
Hak Cipta & Lisensi
Konten ini bersumber dari Repositori Institusi Kemendikdasmen.
Hak cipta dimiliki oleh institusi pencipta karya. Dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International (CC BY-NC 4.0).
Metadata di-harvest melalui protokol OAI-PMH sesuai SK Sekjen Kemendikbudristek No. 18/M/2022.
Karya Umum
Filsafat
Agama
Ilmu-ilmu Sosial
Bahasa
Ilmu-ilmu Murni
Ilmu-ilmu Terapan
Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
Kesusastraan
Geografi dan Sejarah