Perkebunan karet di Jambi : peranannya pada masa Agresi Militer I dan II 1947-1948
Swastiwi, Anastasia Wiwik
Pengetahuan masyarakat Jambi tentang karet diawali dari hubungan dengan Malaka. Para tenaga kerja yang bekerja di Malaka, mereka pulang ke kampungnya di Jambi menceritakan mengenai uang dan karet. Harga karet pada waktu itu cukup mahal di Malaka. Mendengar cerita itu, orang-orang Jambi sangat kagum karena masyarakat Jambi pada masa itu belum pernah mengenal uang dan karet, karena jual beli selama ini sifatnya barter saja. Seperti untuk satu kilo gram getah atau damar ditukar dengan satu kilo gram garam. Akhirnya penanaman karet ini merata seluruh daerah di Jambi sebagai monokultur yang menghasilkan devisa non migas terbesar di daerah ini.
Karet pada masa pendudukan Belanda mempunyai kedudukan yang penting. Sebagian besar dari masyarakat yang mendiami daerah Jambi hidup dari basil penjualan karet. Ketika harga karet dalam kurun waktu ini yaitu sebelum adanya depresi ekonomi tahun 1930 cukup tinggi, rakyat dengan giat mengusahakan penyadapan karet untuk meningkatkan produksi. Kegiatan rakyat dalam menaikkan jumlah produksi karet dan dengan tingginya harga karet ketika itu, mengakibatkan jumlah penghasilan rakyat di daerah ini meningkat pula. Penghasilan dan pendapatan rakyat yang mencukupi, membawa rakyat daerah Jambi kepada standar kehidupan ekonomi yang lebih baik dari masa sebelumnya. Oleh rakyat Jambi tingkat kemakmuran ini dinamakan "Hujan Emas".
Jambi juga memberikan kontribusi yang cukup besar yaitu berupa bantuan dana yang berasal dari hasil ekspor karet. Dana tersebut antara lain diperlukan untuk membiayai keberangkatan delegasi Perdana Menteri Syahrir, H.A, Salim ke Dewan Keamanan PBB di Amerika. Bahkanjuga membiayai pengiriman para perwira muda AURI untuk belajar di India, dan juga dapat memberikan kontribusi bagi perjuangan Indonesia di masa revolusi fisik. Hasil dari ekspor karet dapat digunakan untuk membeli dan mencarter pesawat terbang dari luar negeri untuk perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Karet pada masa pendudukan Belanda mempunyai kedudukan yang penting. Sebagian besar dari masyarakat yang mendiami daerah Jambi hidup dari basil penjualan karet. Ketika harga karet dalam kurun waktu ini yaitu sebelum adanya depresi ekonomi tahun 1930 cukup tinggi, rakyat dengan giat mengusahakan penyadapan karet untuk meningkatkan produksi. Kegiatan rakyat dalam menaikkan jumlah produksi karet dan dengan tingginya harga karet ketika itu, mengakibatkan jumlah penghasilan rakyat di daerah ini meningkat pula. Penghasilan dan pendapatan rakyat yang mencukupi, membawa rakyat daerah Jambi kepada standar kehidupan ekonomi yang lebih baik dari masa sebelumnya. Oleh rakyat Jambi tingkat kemakmuran ini dinamakan "Hujan Emas".
Jambi juga memberikan kontribusi yang cukup besar yaitu berupa bantuan dana yang berasal dari hasil ekspor karet. Dana tersebut antara lain diperlukan untuk membiayai keberangkatan delegasi Perdana Menteri Syahrir, H.A, Salim ke Dewan Keamanan PBB di Amerika. Bahkanjuga membiayai pengiriman para perwira muda AURI untuk belajar di India, dan juga dapat memberikan kontribusi bagi perjuangan Indonesia di masa revolusi fisik. Hasil dari ekspor karet dapat digunakan untuk membeli dan mencarter pesawat terbang dari luar negeri untuk perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Detail Information
- Publisher
- Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Tanjungpinang
- Tahun
- 2009
- Bahasa
- id
- Last Updated
- 2024-01-03T03:18:39Z
Subjects / Keywords
Akses Dokumen
Hak Cipta & Lisensi
Konten ini bersumber dari Repositori Institusi Kemendikdasmen.
Hak cipta dimiliki oleh institusi pencipta karya. Dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International (CC BY-NC 4.0).
Metadata di-harvest melalui protokol OAI-PMH sesuai SK Sekjen Kemendikbudristek No. 18/M/2022.
Karya Umum
Filsafat
Agama
Ilmu-ilmu Sosial
Bahasa
Ilmu-ilmu Murni
Ilmu-ilmu Terapan
Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
Kesusastraan
Geografi dan Sejarah