Bawah air Kabupaten Selayar
Andika, Saputra; Lenrawati, Lenrawati; Purnamasari, Nurul Adliyah
Aktivitas pelayaran di perairan Pulau Selayar juga cukup ramai. Pulau Selayar sebagai penghubung dari bagian barat Indonesia ke Indonesia bagian timur, begitu juga sebaliknya. Sayangnya, dalam kegiatan pelayaran pada masa lampau tidak semua kapal bisa sampai ke tujuan dengan selamat, banyak diantaranya yang harus kandas, karam dan tenggelam di tengah perairan. Secara arkeologis hal tersebut terbuktikan dengan adanya penemuan situs-situs arkeologi bawah air di Perairan Selayar, baik itu berupa kapal karam serta muatannya; seperti keramik dan koin mata uang. Salah satu tempat yang memiliki tinggalan situs arkeologi bawah air tersebut adalah Perairan Bontosikuyu yang secara administratif termasuk dalam wilayah Kecamatan Bontosikuyu.
Tinggalan arkeologi lainnya yang mendominasi di Situs Bontosikuyu adalah koin kepeng, sebuah uang atau koin yang tengahnya berlubang. Koin jenis ini masih sering digunakan oleh masyarakat Bali, sebagai bagian dari upacara adat. Koin kepeng yang ditemukan di situs ini dalam keadaan berserakan dan menggumpal sehingga membatu manjadi karang. Koin kepeng yang ditemukan memiliki aksara Tiongkok dan berada dalam konteks yang sama dengan temuan keramik, dan jumlahnya pun cukup banyak. Asal dan perkiraan tahun pembuatan koin kepeng ini dapat diketahui melalui tulisan aksara Tiongkok yang tertera. Aksara Tiongkok yang tertera menunjukan asal dinasti pembuatnya. Dari penelusuran data, dapat diketahui bahwa koin tersebut berasal dari masa dinasti yang berbeda-beda. Salah satunya berasal dari masa Dinasti Han, ada pula dari masa Dinasti Tang, hingga Dinasti Song. Hal ini menunjukkan bahwa koin kepeng tidak lekang oleh waktu, terbukti koin di masa Dinasti Han yang lebih tua, masih dapat digunakan di era yang lebih muda yaitu masa Dinasti Song.
Tinggalan arkeologi lainnya yang mendominasi di Situs Bontosikuyu adalah koin kepeng, sebuah uang atau koin yang tengahnya berlubang. Koin jenis ini masih sering digunakan oleh masyarakat Bali, sebagai bagian dari upacara adat. Koin kepeng yang ditemukan di situs ini dalam keadaan berserakan dan menggumpal sehingga membatu manjadi karang. Koin kepeng yang ditemukan memiliki aksara Tiongkok dan berada dalam konteks yang sama dengan temuan keramik, dan jumlahnya pun cukup banyak. Asal dan perkiraan tahun pembuatan koin kepeng ini dapat diketahui melalui tulisan aksara Tiongkok yang tertera. Aksara Tiongkok yang tertera menunjukan asal dinasti pembuatnya. Dari penelusuran data, dapat diketahui bahwa koin tersebut berasal dari masa dinasti yang berbeda-beda. Salah satunya berasal dari masa Dinasti Han, ada pula dari masa Dinasti Tang, hingga Dinasti Song. Hal ini menunjukkan bahwa koin kepeng tidak lekang oleh waktu, terbukti koin di masa Dinasti Han yang lebih tua, masih dapat digunakan di era yang lebih muda yaitu masa Dinasti Song.
Detail Information
- Publisher
- Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan
- Bahasa
- id
- Last Updated
- 2020-09-30T14:30:06Z
Subjects / Keywords
Akses Dokumen
Hak Cipta & Lisensi
Konten ini bersumber dari Repositori Institusi Kemendikdasmen.
Hak cipta dimiliki oleh institusi pencipta karya. Dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International (CC BY-NC 4.0).
Metadata di-harvest melalui protokol OAI-PMH sesuai SK Sekjen Kemendikbudristek No. 18/M/2022.
Karya Umum
Filsafat
Agama
Ilmu-ilmu Sosial
Bahasa
Ilmu-ilmu Murni
Ilmu-ilmu Terapan
Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
Kesusastraan
Geografi dan Sejarah