Analisis kandungan fluorine (F) di dalam fosiltulang dan gigi: kasus dari gua Pawon, Sangiran, dan Kalitidu
Arif, Johan; Siregar, Darwin A.
Tulang akan mengalami proses diagenesa ketika terkubur dalam tanah yang menyebabkan unsur
organik makin berkurang dan unsur anorganik makin bertambah kadarnya karena masuknya
unsur kimia anorganik dari luar, salah satunya adalah unsur F (fluorine). Penelitian ini membahas
tentang kandungan F (fluorine) pada fosil-fosil tulang dan gigi yang bersifat insitu dan tidak insitu
yang berasal dari Gua Pawon di Jawa Barat, Sangiran di Jawa Tengah, dan Kalitidu di Jawa
Timur. Kandungan F (fluorine) pada fosil tulang dan gigi dapat digunakan untuk menentukan
sumber asal fosil yang berstatus tidak insitu dan tidak diketahui kedudukan stratigrafinya. Hasil
yang diperoleh adalah material yang berasal dari Gua Pawon mempunyai kadar F (fluorine)
yang bervariasi. Material fosil dari Kalitidu yang berstatus insitu mempunyai kadar F (fluorine)
yang relatif sama, sedangkan material fosil yang berstatus tidak insitu mempunyai kadar F
(fluorine) paling tinggi. Material fosil dari Sangiran memiliki hubungan kandungan F (fluorine)
dengan usia formasi yang berbeda dengan Gua Pawon dan Kalitidu, yaitu semakin kecil kadar F
(fluorine) pada fosil tulang dan gigi, maka semakin tua umur fosil. Salah satu material fosil, yaitu
gigi geraham Homo erectus (JA-41), merupakan fosil gigi Homo erectus termuda yang pernah
ditemukan di Sangiran.
organik makin berkurang dan unsur anorganik makin bertambah kadarnya karena masuknya
unsur kimia anorganik dari luar, salah satunya adalah unsur F (fluorine). Penelitian ini membahas
tentang kandungan F (fluorine) pada fosil-fosil tulang dan gigi yang bersifat insitu dan tidak insitu
yang berasal dari Gua Pawon di Jawa Barat, Sangiran di Jawa Tengah, dan Kalitidu di Jawa
Timur. Kandungan F (fluorine) pada fosil tulang dan gigi dapat digunakan untuk menentukan
sumber asal fosil yang berstatus tidak insitu dan tidak diketahui kedudukan stratigrafinya. Hasil
yang diperoleh adalah material yang berasal dari Gua Pawon mempunyai kadar F (fluorine)
yang bervariasi. Material fosil dari Kalitidu yang berstatus insitu mempunyai kadar F (fluorine)
yang relatif sama, sedangkan material fosil yang berstatus tidak insitu mempunyai kadar F
(fluorine) paling tinggi. Material fosil dari Sangiran memiliki hubungan kandungan F (fluorine)
dengan usia formasi yang berbeda dengan Gua Pawon dan Kalitidu, yaitu semakin kecil kadar F
(fluorine) pada fosil tulang dan gigi, maka semakin tua umur fosil. Salah satu material fosil, yaitu
gigi geraham Homo erectus (JA-41), merupakan fosil gigi Homo erectus termuda yang pernah
ditemukan di Sangiran.
Detail Information
- Publisher
- Badan Penelitian dan Pengembangan
- Bahasa
- id
- Last Updated
- 2020-01-14T03:22:39Z
Subjects / Keywords
Akses Dokumen
Hak Cipta & Lisensi
Konten ini bersumber dari Repositori Institusi Kemendikdasmen.
Hak cipta dimiliki oleh institusi pencipta karya. Dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International (CC BY-NC 4.0).
Metadata di-harvest melalui protokol OAI-PMH sesuai SK Sekjen Kemendikbudristek No. 18/M/2022.
Karya Umum
Filsafat
Agama
Ilmu-ilmu Sosial
Bahasa
Ilmu-ilmu Murni
Ilmu-ilmu Terapan
Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
Kesusastraan
Geografi dan Sejarah